Anak adalah
kewajiban besar dan amanat dari Allah yang
harus diperhatikan oleh seorang hamba-Nya.
(QS. Al-Anfal
: 28) yaitu "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah
kalian mengkhianati Allah dan Rasul dan
jangan pula mengkhianati amanah kalian sedang kalian mengetahui".
(QS. Asy-Syura
: 49) yaitu "Milik Allahlah langit dan bumi. Allah
memberikan keturunan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya anak perempuan dan
kepada siapa saja yang Allah kehendaki anak laki-laki".
Anak merupakan amanah dari Allah, serta sebagai
ujian dan cobaan bagi orang tua. Sehingga hamba-Nya tidak boleh menyia-nyiakan
tanggung jawab. Cara menjaganya dan mendidiknya yaitu Ajarkan ADAB.
Ibnu Umar
radhiyallahu anhuma berkata "Ajarkan anakmu adab,
karena engkau akan ditanya tentang anakmu; apa yang engkau telah ajarkan
kepadanya. Dan ia pun akan ditanya tentang bakti dan ketaatannya kepadamu”
(sumber: Sunanul Kubra,
kry. Al-Baihaqi,
No 5301).
Pondasi/penopang yang harus diperhatikan orang tua agar harapan bisa
terealisasikan :
1.
Istri Solehah.
Kamu sebagai istri, istiqomah dan takwa lah.
Jadilah madrasah pertama
untuk anakmu.
2.
Doa.
Doakan dari sebelum memiliki keturunan hingga setelahnya. Orang tua berdoa
memiliki anak yang soleh dan solehah, selalu diberikan hidayah, keistiqamahan
serta keteguhan di atas agama Allah.
(QS. Ash
Shaffat : 100) “Wahai Rabbku karuniakanlah kepadaku anak-anak yang shalih”
(QS.
Ibrahim : 40) “Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat dan
begitu juga keturunanku”.
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda “tiga doa yang diijabahkan tidak
diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang didzalimi”
(Tirmidzi dalam Al-Jami No. 1905)
3.
Memberi
nama yang baik. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman
(dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya, No. 2132).
4.
Adil.
“Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu!” Ini
merupakan peringatan keras dari kecondongan dan kezhaliman terhadap anak-anak,
dan penjelasan faktor yang menyebabkan tidak berbaktinya anak, sikap saling
bermusuhan dan membeci sesama saudara.
5.
Kelembutan
dan kasih sayang. Ini wajib dimulai sejak mereka berusia dini. Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, mencium Hasan Bin Ali radhiyallahu anhu sedangkan Aqra’ Bin Habis
radhiyallahu anhu ada di sisi beliau dan berkata “Ali memiliki sepuluh anak,
tidaklah aku menciumi seorangpun dari mereka”. Lalu Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam pun memandangnya sambil berkata “Barang siapa yang tidak
mengasihi ia tidak akan dikasihi” (Bukhari No. 5997 dan Muslim No. 2594).
6.
Nasehat
dan pengarahan. Orang tua menjauhkan anaknya dari setiap potensi yang dapat
merusak akhlak dan agamanya seperti mendengar musik, channel tv yang berbahaya,
alat-alat yang diharamkan serta berhati-hati untuk ke tempat hiburan yang
diharamkan.
7.
Teman
yang baik. Mengawasi anak dalam pergaulan dan pertemanan termasuk dari
sebesar-besar penopang yang wajib diperhatikan. Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda “Permisalan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti
penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, kalau ia tidak
membarimu bagian darinya, engkau akan mendapatkan wangi darinya. Sedangkan
pandai besi kalau bajumu tidak terkena percikan api, engkau akan mendapatkan
bau yang tak sedap” (Bukhari No.5534 dan Muslim No.2628).
8.
Keteladanan
yang baik. Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.
Seperti itulah pondasi/penopang yang akan membantu
dalam mendidik anak, dalam membantu mengajarkan adab dan sopan santun. Dalam
kehidupan dunia, anak insya Allah akan menjadi anak shalih yang berbakti kepada
orang tua, memelihara dan menjauhi durhaka. Setelah orang tua meninggal dunia, maka
anaknya akan bersungguh-sungguh mendoakan kebaikan untuk orang tua. Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Apabila anak adam meninggal dunia mak
terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya” (Muslim No.1631).
(Sumber tulisan : Sukses Mendidik Anak – Syeikh Dr.
Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar