Oleh : Inti Nusaida A. M.Psi., Psikolog
Hal ini WAJAR, jika terjadi sekitar 3-5 tahun, pada dasarnya, perilaku tersebut muncul dari rasa penasaran anak akan anggota tubuhnya, termasuk alat kelamin. Hanya saja ia belum mampu mengutarakan keinginannya dengan jelas. Biasanya, anak akan berhenti saat diingatkan atau diberikan aktivitas lain.
Perlu DIWASPADAI jika..
Anak serig melakukannya hingga tidak dapat beralih ke kegiatan lain, menjadi mudah marah saat diingatkan, atau tindakannya sudah menyebabkan iritasi dan luka pada alat kelamin.
Sikapi dengan...
1. Tenang
Saat melihat anak memainkan kemaluannya, jangan langsung memarahinya. Marah akan membuat anak bingung dan takut. Pahami bahwa ini adalah bagian dari tahap perkembangan anak.
2. Berikan seks edukasi sesuai tahapan usia anak
Gunakan bahasa yang tepat dan sederhana. Mulai dari menjelaskan pada anak bagian-bagian tubuhnya. Sebutkanlah dengan nama sebenarnya, bukan sebutan yang lain. Misal saat sedang mandi, bisa katakan "ini kaki adik, ini tangan adik, ini penis adik". Tujuannya agar anak tidak bingung dan memiliki pemahaman positif terhadap anggota tubuh.
3. Ajarkan anak bahwa kemaluan adalah milik pribadinya sendiri
Hanya ia dan orang tuanya (untuk keperluan tertetu, seperti membantu membersihkan setelah BAB/BAK) yang boleh menyentuhnya. Kenalkan anak dengan rasa malu, contohnya ajarkan anak untuk melepas pakaiannya hanya di ruang tertutup, dsb.
4. Bicarakan dengan santai dan menyenangkan
Beri kesempatan anak bertanya, dan jawablah dengan tenang. Jadilah teman ngobrol yang baik agar di kemudian hari anak tidak segan dan terbuka pada orang tua.
Memainkan atau memegang kemaluan adalah bagian dari perkembangan seksual anak. Namun bila anak menunjukkan gejala gangguan perilaku seksual, tak ada salahnya mencari bantuan profesional agar dapat ditangani degan tepat.
Sumber : IG Insightpsikologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar